Awal Mula Dikumandangkannya Adzan


Muhammad bin Ismail Al-Kahlani As-San’ani (w 1182 H/1768 M; ahli hadis asal Yaman) dalam kitab hadis “Subul As-Salam” mengatakan azan pertama kali disyariatkan pada tahun pertama Hijriah. Kendati menurutnya ada beberapa hadis yang mengemukakan bahwa azan disyariatkan pertama kali dl Makkah.

Pendapat yang terkuat (sahih) adalah yang mengatakan bahwa azan pertama kali disyariatkan di Madinah pada masa awal Rasulullah SAW hijrah. Pendapat ini sesuai dengan kandungan beberapa hadis Rasulullah SAW, di antaranya adalah yang berikut:

Pada suatu kali kaum Muslimin yang baru datang ke Madinah berkumpul di masjid untuk melaksanakan shalat. Mereka membicarakan tentang tidak adanya panggilan untuk mengerjakan shalat, padahal waktu shalat telah tiba.

Sebagian dari mereka berkata, “Buatkan lonceng seperti lonceng umat Nasrani.” Yang lain berkata, “Gunakan terompet seperti terom­pet kaum Yahudi.” Mendengar pembicaraan itu. Umar bin Al-Khathab berkata, “Mengapa tidak disuruh saja seorang laki-laki memanggil jamaah untuk shalat dengan menyerukan ‘telah datang waktu shalat?'”

Mendengar percakapan para sahabat tersebut akhirnya Rasulullah SAW bersabda,

”Hai Bilal (Ibnu Rabah) berdirilah, dan serulah orang untuk shalat.” Maka sesuai dengan petunjuk Nabi SAW, Bilal mengucapkan: “As-shalatu jami’ah (mari shalat berjamaah)”

(HR. Al-Bukhari dari Ibnu Umar).

Mendengar panggilan shalat ini, orang-orang Yahudi di Madinah memperolokkannya dan mengatakanya sebagai permainan. (QS. 5: 58). Kemudian bacaan azan diperjelas oleh Rasulullah SAW.

Bilal bin Rabah (w. 20 H/641 M) diperintahkan Rasulullah SAW untuk menggenapkan bacaan azan dua-dua kali dan mengganjilkan bacaan ikamah, kecuali bacaan “qad qamatis salah (sesunguhnya salat akan didirikan)” yang harus dibaca dua-dua kali (HR. Al-Bukhari dari Anas bin Malik).

Pada hadis lain dikemukakan bahwa setelah jumlah umat Islam meningkat, ada yang memberitahukan waktu shalat dengan suatu cara yang biasa mereka kenal dan ada pula yang menyarankan dengan menyalakan api atau memukul lonceng.

Mendengar hal itu, Nabi SAW menyuruh Bilal menggenapkan bacaan azan dan mengganjilkan bacaan ikamah (HR. Anas bin Malik dari Ibnu Umar). Hadis tersebut sekaligus menunjukkan bahwa azan berfungsi memanggil orang untuk melakukan shalat wajib lima kali sehari semalam.

Sementara untuk shalat jenazah dan shalat sunah lainnya, seperti salat Idul Fitri dan Idul Adha (salat id), salat kusuf dan khusuf (shalat gerhana), serta shalat istisqa, tidak dikumandangkan azan, namun diganti dengan kalimat ‘as-shalatu jamiah’.

Ibnu Qudamah (ahli fikih Mazhab Hanbali) mengemukakan, disamping berfungsi sebagai panggilan untuk melakukan shalat berjamaah, azan juga dianjurkan untuk dikumandangkan kepada bayi yang baru lahir. Rasulullah SAW sendiri melakukannya kepada cucunya, Hasan bin Ali bin Abi Thalib. yang baru saja dilahirkan oleh Fatimah Az-Zahra (HR. Abu Dawud dan At-Tirmizi).

Dalam riwayat lain juga dikatakan,

“siapa saja yang melahirkan anak agar mengumandangkan azan di telinga kanan bayi dan ikamah di telinga kirinya agar ia terbebas dari godaan jin dan penyakit.”

(HR. Ibnu As-Sanni).

sumber

One response to “Awal Mula Dikumandangkannya Adzan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s